Tahukah Kamu vaksin MR (Rubella) dan MMR?

Tahukah Kamu vaksin MR dan MMR?

Tahukah Kamu vaksin MR (Rubella) dan MMR?

Vaksin measles dan rubella (MR) menangkal penyakit yang diakibatkan oleh virus measles (campak) dan rubella (campak jerman). Sedangkan MMR, adalahvaksin untuk menangkal terjadinya penyakit infeksi measles, mumps (gondong), dan rubella. Gejala campak dibuka dengan demam tinggi, anak terlihat sakit berat, batuk dan pilek, bisa dijumpai muntah dan mencret. Gejala lainnya terjadinya ruam kemerahan dibuka dari wajah dan semua tubuh, mata kemerahan dan berair, serta bibir pecah pecah. Pada anak tertentu saat merasakan demam tinggi akan melahirkan kejang. Setelah demam turun, bercak pulang menjadi coklat kehitaman dan bakal menghilang sejumlah hari hingga minggu sesudahnya. Penyakit ini dapat memunculkan komplikasi pada paru dan otak.

Data statistis mengindikasikan jumlah pasien campak pada tahun 2010-2015 sejumlah 23.164 kasus, dan permasalahan Rubella pada tahun 2010-2015sejumlah 30.463. Data dalam 5 tahun terakhir mengindikasikan 70% permasalahan rubella terjadi pada kumpulan usia <15 tahun. Virus ini paling menular sehingga memunculkan wabah. Virus MR bisa menyerang perempuan hamil. Apabila virus menyerang pada trimester kesatu (0-3 bulan kehamilan) dapat menyebabkan keguguran. Apabila virus menyerang ibu hamil pada trimester kedua, bakal meneyebabkan sebagai congenital rubella syndrome yang ditandai dengan ukuran kepala yang kecil, buta, tuli, dan cacat mental.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melafalkan vaksinasi itu terbukti menangkal penyebaran penyakit serta mengamankan nyawa jutaan anak-anak di dunia. Vaksin MR telah dipakai pada 141 negara dan tidak terdapat laporan efek samping yang berbahaya. Vaksin yang dipakai di Indonesia terjamin keamanannya. Cakupan imunisasi yang kurang dapat menyebabkan munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) laksana pada 2015 lalu, di Padang, Sumatera Barat dalam penularan difteri. Sejumlah keberhasilan vaksinasi telahdiperlihatkan antara lain, cacar pada 1974, tetanus neonatorum pada 2015 lalu, serta Indonesia bebas polio pada 2014. Bagi campak, Indonesia menargetkan bebas pada 2020 mendatang. Berdasarkan keterangan dari kantor regional Asia Tenggara dari Badan Kesehatan Dunia (WHO SEARO), Indonesia adalah salah satu negara yang terbelakang dalam upaya menangani penyakit campak. Ini diakibatkan adanya kesalahpahaman terhadap upaya vaksinasi. Data WHO SEARO mengindikasikan 1,1 juta anak berusia setahun tidakmenemukan vaksinasi pada 2016 lalu. Indonesia bahkan sedang di bawah Maladewa dan Bhutan yang sudah mendeklarasikan bebas campak.

 

Apa manfaatnya?

Vaksin ini dapat diserahkan untuk anak umur 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun. Vaksin MR perlu diserahkan pada anak untuk menangkal penyakit campak dan rubella, dan menangkal penyebarannya untuk anak-anak lain. Virus ini mengakibatkan kematian dan kecacatan yang bermakna pada anak-anak di Indonesia dan di dunia, maka guna mematikan virus ini secara global, dibutuhkan vaksin massal pada anak-anak di Indonesia.

 

Darimana bahannya?

Berdasarkan keterangan dari Menteri Kesehatan RI, imunisasi MR tidak haram kerena tercipta dari telur ayam (embrio ayam) sampai-sampai dapat dipakai tanpa terdapat keraguaan bakal kehalalannya.

 

Pandangan masyarakat mengenai vaksin MR

Orang tua yang menampik vaksinasi memandang anak mereka masih sehatwalau tidak diimunisasi. Namun, dari sejumlah pendapat pakar kesehatan menuliskan bahwa anak-anak yang tidak diimunisasi malah akan mendapat perlindungan dari mereka yang divaksinasi. Pandangan masyarakat menampik pemakaian vaksin sebab masih meragukan ketenteraman vaksin, dan dihubungkan dengan efek samping dari kejadian vaksinasi yakni Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dimana angka kejadiannya paling kecil.

Beberapa dalil masyarakat menampik (kontra) vaksin MR ialah (1) sebab vaksin itu belum memilki sertikat halaL, (2) terdapat anggapan bahwa imunisasi ini bisnis dari perusahaan obat, (3) Imunisasi ini melampaui ketetapan Tuhan/Allah SWT bahwa sakit tersebut adalahbagian dari ujian Allah, (4) adanya penjelasan dari tenaga medis yang kompeten bahwa tidakterdapat vaksin yang halal, (5) tidak sedikit beredar vaksin palsu, (6) anak tidak jarang sakit/rewel sesudah divaksin, dan (7) kurang sokongan keluarga/suami/ orangtua terhadap vaksin.

Sedangkan pendapat yang menyokong vaksinasi itu didasari atas beberapa dalil yaitu menangkal lebih baik daripada mengobati, vaksinasi penting menangkal penyakit infeksi menjadi wabah, dan standar kesehatan pribadi dan lingkungan masih rendah di Indonesia sampai-sampai anak dibutuhkan vaksinasi. Selanjutnya, Fatwa MUI No. 4 tahun 2016 mengenai imunisasi yang memutuskan imunisasi itu pada dasarnya mempunyai sifat mubah padasituasi darurat, dan belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diwakili Pendiri Halal Corner, tidak sedikit pihak mengklaim vaksin Rubella halal (Maharan, 2017). Di samping itu, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun menuliskan bahwa pihaknya telah menerbitkan Fatwa Nomor 4 Tahun 2016 mengenai Imunisasi. Fatwa ini membalas keraguan umat muslim untuk mengerjakan imunisasi. Fatwa ini sekaligus membalas keraguan beberapa masyarakat muslim, yang mengaku bahwa imunisasi sebagai konsep pencegahan itu berlawanan dengan peraturan keagamaan, terutama ikhtiar. Akan tetapi, kebolehannya tersebut disyaratkan dengan memakai vaksin halal. Terkait vaksin Rubella, kini vaksin yang dipakai untuk imunisasi MR belum bersertifikat halal.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*