Cara Penyebaran Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam Berdarah

Cara Penyebaran Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Cara Penyebaran Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) – Penyakit demam berdarah juga menjadi pandemi (penyakit yang berkembang cepat dampak penularan dari insan ke manusia) di Indonesia. Nyamuk Aedes berperan sebagai perantara (vektor) dalam penularan virus dengue dari insan ke manusia. Seseorang tidak bakal tertular penyakit DBD bilamana tidak digigit oleh nyamuk. Ada dua jenis nyamuk pembawa virus dengue yakni Aedes Aegypti dan aedes albopictus. Aedes Aegypti  menyebarkan virus dengue dibanding aedes albopictus yang relatif jarang.

 

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ditularkan melewati gigitan nyamuk betina aedes aegypti bakal menggigit dan menghisap darah penderita DBD. Virus dengue yang terhisap bakal berkembang di usus nyamuk, kemudian bercampur dalam kelenjar ludah nyamuk, lantas nyamuk bakal menularkannya dengan teknik menggigit insan yang rentan. Proses inkubasi di dalam tubuh nyamuk ini memakan masa-masa 10-12 hari.

 

Nyamuk aedes aegypti pada pagi hari (08.00-10.00) dan senja hari (15.00-17.00), nyamuk berkelana menggali mangsanya. Setelah menggigit tubuh insan dengan cepat perutnya membuncit yang diisi kira-kira dua sampai empat milligram darah atau selama 1,5 kali berat badannya. Berbeda dengan nyamuk beda yang lumayan menggigit satu mangsa pada periode sesudah bertelur sampai akhir hidupnya, aedes mempunyai kelaziman menggigit sejumlah orang secara berganti-ganti dalam masa-masa yang singkat.

 

Nyamuk betina menghisap darah insan untuk menemukan protein untuk keperluan pembiakannya. Tiga hari selepas menghisap darah, ia bakal menghasilkan sampai 100 butir telur yang halus laksana pasir. Nyamuk dewasa bakal terus menghisap darah dan bertelur lagi.

 

Apabila nyamuk yang terjangkit menggigit manusia, ia bakal memasukkan virus dengue yang sedang di dalam air liurnya ke dalam sistem aliran darah manusia. Setelah empat sampai enam hari atau yang dinamakan sebagai periode inkubasi, penderita bakal mulai mendapat demam yang tinggi. Virus tersebut menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga menyebabkan pendarahan. Manifestasi klinis dari infeksi virus dengue bisa berupa demam dengue.

 

Secara kronologis prosesnya dibuka dari nyamuk aedes yang tidak bervirus menggigit dan mengisap darah seseorang yang sudah terkena demam berdarah dengue. Nyamuk yang telah terinfeksi virus lantas menggigit orang sehat dan mengalihkan virusnya bareng air ludah ke dalam tubuh.

 

Pada ketika tersebut, virus menggandakan diri dan menginfeksi sel-sel darah putih serta kelenjar getah jernih untuk lantas masuk ke sistem sirkulasi darah. Virus ini sebenarnya melulu ada di dalam darah sekitar tiga hari semenjak ditularkan oleh nyamuk. Pada hari-hari itulah terjadipeperangan antara antibodi dan virus dengue yang dirasakan sebagai benda asing oleh tubuh. Badan seringkali mengalami fenomena demam dengan suhu tinggi antara 39° C hingga 40°C.

 

Akibat peperangan tersebut terjadi penurunan kadar trombosit dan bocornya pembuluh darah sehingga menciptakan plasma darah mengalir ke luar. Penurunan trombosit ini mulai dapat dideteksi pada hari ketiga. Masa kritis penderita demam berdarah dilangsungkan sesudahnya, yaitu pada hari keempat dan kelima.

 

Pada fase ini, suhu badan turun dan seringkali diikuti oleh sindrom shock dengue sebab perubahan yang tiba-tiba. Muka penderita juga menjadi memerah atau facial flush. Biasanya, penderita pun mengalami sakit pada kepala, tubuh unsur belakang, otot, tulang dan perut (antara pusar dan ulu hati). Tidak jarang dibuntuti dengan muntah yang berlanjut dan suhu dingin dan lembab pada ujung jari serta kaki.

 

Penanganan yang benar pada fase tersebut paling ditekankan supaya penderita dapat melewati masa kritisnya dengan baik. Caranya dengan tidak sedikit memberikan asupan cairan untuk penderita sebagai pengganti plasma darah. Hal ini disebabkan banyaknya cairan tubuh yang hilang dengan cepat dampak merembesnya plasma darah yang terbit dari pembuluh darah. Saat ini, larutan gula garam atau oralit masih adalahcairan terbaik sebab komposisinya setara dengan plasma darah.

 

Pemberian infus diberikan bilamana penderita dalam situasi muntah terus, tidak dapat makan dan minum, menderita kejang, kesadaran menurun atau derajat kebocoran plasma darahnya tinggi, yang biasa terjadi pada fase kritis. Begitu pula dengan transfusi trambosit yang akan diserahkan jika trambosit penderita di bawah 100.000 dengan pendarahan yang lumayan banyak. Bila masa kritis itu dapat dilewati dengan baik maka pada hari keenam dan ketujuh situasi penderita bakal berangsur membaik dan pulang normal pada hari ketujuh atau kedelapan.

 

Tapi, reaksi tubuh insan terhadap virus ini bisa berbeda. Perbedaan reaksi ini pun akan memanifestasikan perbedaan penampilan fenomena klinis dan perjalanan penyakit. Bentuk reaksi tubuh insan terhadapeksistensi virus dengue itu ialah terjadi netralisasi virus, disusul dengan mengendapnya format netralisasi virus pada pembuluh darah kecil di kulit berupa fenomena ruam, terjadi gangguan faedah pembekuan darah sebagai dampak dari penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen beku darah yang memunculkan manifestasi perdarahan, terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang menyebabkan keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah mengarah ke ke rongga perut berupa fenomena ascites dan rongga selaput paru berupa fenomena efusi pleura. Jika tubuh manusia melulu memberi reaksi kesatu dan kedua, orang tersebut akan menderita demam dengue. Sementara, andai ketiga reaksi terjadi, orangtersebut akan merasakan DBD dengue.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*